SIDANG MUNAQASYAH MAGISTER ILMU HADIS DI AL-AZHAR MEMBEDAH TRANSMISI QASIM BIN ASHBAG PERAWI HADIS ASAL CORDOBA
Januari 16, 2025Sidang diadakan di Auditorium Grand Syaikh Al-Azhar Imam Akbar Ahmad Thayyib, Nasr City. Setelah sidang berlangsung selama kurang lebih 3 jam, dewan penguji menganugerahkan magister dengan predikat Mumtaz/Cumlaude.
Selain dihadiri oleh ratusan mahasiswa, juga dihadiri oleh Bapak Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo, Ustadzah Dr. Oki Setiana Dewi, Presiden PPMI, para ketua senat dan lain-lain.
Tesis mahasiswa asal Lombok Timur ini terdiri dari 985 halaman, ditulis selama 2,5 tahun. Total ia menyelesaikan pascasarjananya di Universitas Al-Azhar selama 4 tahun. Setelah sebelumnya juga menyelesaikan S1 di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar.
Sekelumit tentang Qasim bin Ashbag
Qasim bin Ashbag lahir di Cordoba (kini Provinsi di Spanyol Selatan) 20 Dzulhijjah 247 H/20 Februari 862 M. Qasim menghafal Al-Quran di usia belia dan belajar dari ulama di daerahnya. Barulah ketika menginjak usia 27 tahun, tepatnya tahun 274 H era pemerintahan Amir ke-6 Pemerintahan Islam Andalusia: Al-Mundzir bin Muhammad, Qasim memulai perjalanan ilmiahnya, sekaligus menunaikan ibadah haji. Ditemani dua sahabatnya yaitu: Muhammad bin Zakaria bin Muhammad Abu Abd Al-A’la Al-Lakhmi (w. 322 H) dan Muhammad bin Abdul Malik bin Aiman bin Faraj Abu Abdillah Al-Qurthubi (w. 330 H).
Mereka mendengar dari setiap ulama setempat daerah yang ia singgahi. Berangkat dari Cordoba menuju ke arah selatan, menyeberangi selat Gibraltar, sampai di Maroko, singgah di Kota Qayrawan untuk belajar dari para muhaddits di sana, di antaranya: Bakr bin Hammad Al-Taharti (w. 296 H) darinya ia meriwayatkan hadis-hadis Musaddad bin Musarhad.
Dari Maroko melanjutkan perjalanan darat ke arah timur, hingga singgah di Mesir untuk belajar dari para ulamanya seperti Abu Zinba’ Rauh bin Faraj Al-Qatthan (w. 282 H), Mutthalib bin Syu’aib Al-Azdi (w. 282 H) dan Miqdam bin Daud Al-Ru’aini (w. 283 H).
Dari Mesir menyeberangi Laut Merah. Sampai di Mekkah menunaikan ibadah haji dan menetap untuk belajar. Di antara guru yang ia temui di Makkah: Abu Ja’far Muhammad bin Ismail Al-Shai’gh (w. 276 H), Abu Yahya bin Abi Masarrah Al-Makki (w. 279 H), Ali bin Abdul Aziz Al-Baghawi (w. 286 H).
Di Madinah ia mendengar dari Ahmad bin Muhammad bin Syaibah Al-Bazzar dan Abdullah bin Amr bin Muhammad (keduanya tidak ditemukan biografinya).
Dari Madinah bertolak ke Irak. Mulai dari Kota Kufah ia mendengar dari: Ibrahim bin Abi Al-Anbas, Muhammad bin Abi Al-Hunain Al-Hunaini, Ibrahim bin Abdullah Al-Qasshar (seorang musnid berusia panjang, murid Waki’ bin Al-Jarrah yang paling terakhir wafat)
Kemudian memasuki Kota Basrah dengan tujuan utama untuk berguru kepada Abu Daud, ia sampai di sana tahun 276 H, sayangnya Imam Abu Daud baru saja meninggal ketika mereka sampai.
Memasuki Ukbara dan Baghdad, di sanalah mereka menetap lama dan mendengar dari banyak ulama besar dalam berbagai bidang keilmuan, di antaranya: Ibnu Qutaibah Al-Dinawari, Muhammad bin Al-Jahm, Abu Qilabah Abdul Malik bin Muhammad Al-Raqasyi, Mudhar bin Muhammad, Ahmad bin Zuhair (yang terkenal dengan Ibnu Abi Khaitsamah: mendengar darinya hadis, tarikh dan sirah), Ibnu Abi Al-Dunia, Al-Harits bin Abi Usamah (pemilik Musnad), Ismail bin Ishaq Al-Qadhi (maha guru Madzhab Maliki di Bagdad), Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (darinya ia mendapatkan sanad paling tinggi, yaitu ruba’iyyat).
Selain prioritas utamanya meriwayatkan hadis, ia juga mengerahkan energinya untuk belajar kepada para sastrawan, muqri’ Al-Quran dan para pembesar fikih maliki. Ia juga belajar dari tokoh-tokoh besar Syafi’iyah di Iraq saat itu yaitu: Abul Abbas Ahmad bin Suraij Al-Qadhi dan Imam Muhammad bin Jarir Al-Thabari. Dari rihlah ilmiahnya di Bagdad inilah, Qasim membawa pulang ke Andalusia ilmu yang luar biasa. Qasim dan kawannya diperkirakan kembali ke Andalusia sekitar 280 H.
Murid-murid
Setelah rihlah ilmiah dengan penuh kesungguhan dan keseriusan itu, Qasim kembali dengan membawa kealiman dan sanad paling tinggi. Ia memiliki ribuan murid, tidak hanya dari Cordoba, juga dari berbagai kota di Spanyol, Portugal, Al-Jazair dan Maroko.
Karya dan Kontribusi Ilmiah
Ia memperkaya khazanah keilmuan di Andalusia dengan mengimpor dan mengajarkan kitab-kitab berharga para ulama yang ia riwayatkan dari para gurunya selama rihlah, yang belum populer sebelumnya di Andalusia, dan lintas disiplin, di antaranya:
Dalam spesialisasinya periwayatan kitab-kitab hadis, ia meriwayatkan: Al-Muwattha dengan riwayat Yahya Al-Laitsi dan riwayat Ibnu Wahb, Mushannaf milik Waki’ bin Jarrah, Mushannaf milik Sufyan bin Uyaynah, Jāmi’ oleh Sufyan Al-Tsauri, Musnad milik Abu Bakr bin Syaibah, Musnad milik Harits bin Abi Usamah, Musnad milik Al-Humaidi dari Sufyan bin Uyaynah, Musnad milik Musaddad bin Musarhad, Al-Qith’ān milik gurunya Ibnu Waddhah, A’lām Al-Nubuwwah milik Ibnu Qutaibah.
Dalam Ulum Qur’an, ia meriwayatkan kitab Al-Majāz karya Abu Ubaid Ma’mar bin Al-Mutsanna, tafsir karya Sufyan bin Uyayna, dan tiga kitab fenomena Ibnu Qutaibah: Gharīb Al-Quran, Musykil Al-Qur’ān, dan Ma’āni Al-Qur’ān.
Dalam syarh hadis, ia meriwayatkan: Syarh Gharīb Al-Hadīts milik Ibnu Qutaibah dan Ishlāh Al-Ghalath yang merupakan koreksian Ibnu Qutaibah atas Gharīb Al-Hadīts milik Abu Ubaid Qasim bin Sallam.
Dalam tarikh: ia meriwayatkan Tarikh Ibnu Abi Khaitsamah, yang menurut Khathib Al-Bagdadi, “Saya tidak mengetahui kitab yang lebih kaya faidah dan muatannya daripada yang disusun oleh Ibnu Abi Khaitsamah.” Ia juga meriwayatkan tarikh milih Amr bin Ali Al-Fallas dan sebuah juz yang menyebutkan nama para perawi dalam sanad Ibnu Wahb.
Dalam sirah dan ansāb: ia meriwayatkan kitab Maghāzi milik Musa bin Uqbah, Al-Siyar milik Abu Ishaq Al-Fazari, Hurūb Al-Azāriqah oleh Muhammad bin Abbad.
Dalam genre zuhud dan raqā’iq (kitab yang memuat pesan-pesan melembutkan hati): ia meriwayatkan Al-Raqā’iq milik Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Zuhd milik Ja’far bin Muhammad Al-Sha’ig.
Dalam kebahasaan dan sastra: ia meriwayatkan kitab-kitab Ibnu Qutaibah seperti Adab Al-Kātib, Al-Anwā’, dan Al-Ma’ārif.
Adapun karya tulis miliknya di antaranya: Al-Mushannaf, Al-Mujtaba (mengikuti Al-Muntaqa Ibnu Al-Jarud), Al-Musnad, Gharā’ib Hadits Malik, Ahkām Al-Quran, Fadhā’il Quraisy, Al-Nāsikh Wa Al-Mansūkh, Al-Asbāb, Birr Al-Wālidain, dan lainnya.
Meski kitab-kitab karyanya di atas tidak ditemukan keberadaannya saat ini, Al-Dzahabi mengatakan “Kitab-kitab Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm dan Abu Walid Al-Baji dipenuhi dengan riwayat-riwayat darinya.”
Pujian Para Ulama
Atas prestasi dan kontribusinya, Qasim bertabur pujian dari para ulama nuqqād yang menulis biografinya, di antaranya: Muhammad bin Al-Harits Al-Khusyani (muridnya langsung) , Ibnu Al-Faradhi , Ibnu Hazm , Al-Humaidi , Yaqut Al-Hamawi , Ibnu Al-Qathhan, Ibnu Abdil Hadi , Al-Dzahabi , Al-Shafdi , Al-Yāfi’i, Ibnu Farhun , Al-Suyuthi dan lainnya. Di antara yang substansi pujian-pujian mereka:
- Qasim mencapat derajat tsiqah nāqid, memiliki penguasaan tajam dalam hadis dan rijāl.
- Sanad tertinggi di Andalusia terhenti padanya. Faktor rihlah panjangnya, dan ia diberikan usia panjang.
- Matang dalam nahwu, gharīb dan syair.
- Walaupun dominan dalam periwayatan, dalam hukum fikih ia dijadikan rujukan.
- Berwibawa dan disegani oleh masyarakat, bahkan oleh para penguasa. Dua khalifah berguru kepadanya yaitu Al-Nashir, dan putranya Al-Mustanshir saat masih menjadi putra mahkota.
- Walaupun dekat dengan khalifah, ia memilih hidup sederhana dan menolak semua jabatan yang ditawarkan kepadanya.
Wafat
Allah memanjangkan usia Qasim. Meski demikian ingatannya tetap kuat. Ibnu Al-Faradhi mencatat, ingatan beliau mulai menurun pada tahun 337 H, berlangsung 3 tahun hingga meninggal. Karena itu beliau memberhentikan aktivitas meriwayatkan, sebagai sunnah-nya para muhadditsin apabila menyadari penurunan daya ingatnya.
Setelah hidup yang dipenuhi dengan kontribusi panjang, mencari dan menyebarkan ilmu, pada malam Jumat 14 Jumadal Ula 340 Hijriah, Qasim memenuhi panggilan tuhannya. Jika tanggal lahirnya adalah Senin 20 Dzulhijjah 247 H, maka ketika wafat, usianya 92 tahun, 5 bulan, 6 hari. Semoga Allah merahmatinya dan membalas jasa-jasanya.
Data Penemuan
Setelah menelusuri studi literatur kitab-kitab primer hadis, tim proyek ini menemukan riwayat-riwayat Qasim bin Ashbag dari kitab-kitab yang disusun oleh ulama-ulama Andalusia seperti Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm dan Abu Walid Al-Baji. Melalui penelusuran (al-tatabbu’ wa al-istiqrā’), menemukan sebanyak 1550 marwiyyat Qasim bin Ashbag. Jumlah ini lalu disortir berdasarkan perawi tertinggi yaitu sahabat (alā tharīqati al-masānīd), yang total penemuan kami berjumlah 233 sahabat.
Muhammad Zainuddin mendapatkan bagian meneliti 150 hadis dari riwayat Abu Hurairah. Dengan pengurutan berdasarkan tabi’in yang paling banyak meriwayatkan. Universitas Al-Azhar memiliki standar autentikasi yang sangat cermat dan terukur, yang disebut dengan takhrij ala al-mutāba’ah al-tāmmah fa al-qāshirah.
Setelah autentikasi, peneliti melakukan studi sanad (dirasāt asānīd) berupa pembuatan biografi setiap perawi yang ada dalam sanad. Tentu dengan format dan elemen yang sudah ditetapkan. Dalam tesis ini, peneliti melakukan penelitian biografi sebanyak 313 perawi. Dari metode kritis, disimpulkan hasil berikut:, 2 sahabat, 228 perawi tsiqah, 53 perawi shaduq, 2 maqbul, 4 majhul ain, 6 majhul hal, 11 dhaif, 1 munkar hadits, 1 dhaif jiddan, 4 matruk. Dengan penjelasan detail pada perawi-perawi yang melakukan tadlis (menggunaan Bahasa periawayatan yang mengecoh), atau kehilangan ingatan, dan yang memiliki ideologi bid’ah.
Selain itu, peneliti juga memberikan penjelasan pada lafaz-lafaz asing yang terdapat dalam hadis dengan merujuknya kepada literatur yang khusus mengumpulkannya, seperti karya Ibnu Al-Atsir berujudul Al-Nihayah. Juga pada hadis-hadis yang membahas hukum fikih dengan menyarikannya berdasarkan piranti yang distandarisasi. Begitu pun pada hadis yang dapat menimbulkan kesalah-pahaman maka peneliti memberikan penjelasan.






